Sesuai dengan ciri-cirinya,
masalah pokok yang dialami siswa lambat belajar adalah kelambatannya dalam
belajar sebagai akibat dari keterbatasan kemampuan yang dimilikinya. Di samping
itu, murid lambat belajar juga mengalami masalah penyesuaian diri yang
bersumber dari keadaan emosi yang kuarng terkendali, sehingga tidak jarang
terjadi perselisihan dengan teman-temannya.
Kepribadian manusia mempunyai
keunikan. Keunikan ini yang membedakan orang satu dengan yang lainnya. Dalam
kepribadian tercakup aspek fisik, psikis, serta sosial. Di dalamnya juga
tercakup cara-cara memberikan respon terhadap rangsangan dari dalam maupun dari
luar, baik rangsangan fisik maupun sosial. Yang menjadi pertanyaan dalam hal
ini:
Dari hasil penelitian yang dilakukan
Purwandari (1993) dalam Suharmini (2001) ternyata anak lambat belajar (Slow
Learner) mempunyai ciri-ciri emosi sebagai berikut:
a. Daya
konsentrasi rendah
Daya konsentrasi hanya sebentar, seperti terikat dalam
kegiatan belajar di kelas, anak hanya dapat mengikuti pelajaran dengan baik ±
20 menit, lebih dari itu, anak kelihatan gelisah, dan kadang mengganggu
teman-temannya yang sedang belajar.
b. Mudah lupa dan beralih perhatian
Hal ini
sangat berkaitan dengan daya ingat dan rangsangan dari luar.
c. Eksplosif
Anak sering
menampakkan sikap cepat bereaksi terhadap rangsang tanpa ada pertimbangan
pemikiran terlebih dahulu. Bila tidak diberi tugas akan nampak kecewa.
Kehidupan emosi anak lambat belajar
tidak jauh berbeda dengan anak normal, hanya tidak sekaya anak normal. Misalnya
anak lambat belajar dapat mengekspresikan kegembiraan tetapi sulit untuk
mengungkapkan kekaguman. Bentuk-bentuk emosi yang positif pada anak lambat
belajar adalah cinta (kasih sayang), gembira, dan empati. Emosi yang negative,
seperti ketakutan, iri hati, dan agresif (Purwandari, 1993 dalam Suharmini
2001).
Hasil penelitian lain dengan
menggunakan C.P.Q (Children’s Personality Questionnaire) ini ditemukan
anak lambat belajar memiliki kekurangan berupa tidak matang emosi, kurang
tabah, ceroboh, kurang dapat menahan diri, bersikap dingin, menyendiri, dan
cenderung melanggar ketentuan.
Kepribadian dan penyesuaian sosial
merupakan proses yang berkaitan. Seperti yang dikatakan di depan bahwa
kepribadian itu mempunyai fungsi untuk menyesuaikan terhadap lingkungan
termasuk lingkungan sosial (Suharmini, 2001).
Mengenai penyesuaian anak Slow
Learner , Purwandari (1994) dalam Suharmini (2001) memaparkan hasil
penelitiannya sebagai berikut:
a. Anak Slow
Learner mempunyai dorongan untuk berafiliasi atau menjalin hubungan
persahabatan dengan teman dalam kelompoknya. Hanya kadang-kadang kelompok
member peran yang tidak berarti dan kadang menolaknya.
b. Tidak memenuhi
tuntutan sosial, perilaku anak Slow Learner sering tidak memenuhi
tuntutan sosial, ini yang menyebabkan kelompok sering menolaknya.
c. Menyendiri.
Anak Slow Learner merasa lebih aman dalam keadaan kesendirian, karena
tidak ada yang mengusik.
d.
Sering tidak diterimanya oleh teman sebaya, menyebabkan merasa tidak dihargai (ora
di uwongke). Anak sering diejek oleh teman-temannya.
e. Anak Slow
Learner lebih merasa gembira bila berada pada teman-temannya yang lebih
kecil. Anak menunjukkan sikap sosial yang menyenangkan pada kelompok anak yang
lebih kecil. Ungkapan rasa kasih sayang, tingkah laku “clowning”
(membadut” sering dilakukan anak Slow Learner pada saat bergabung dengan
anak yang lebih kecil. Kepuasan pribadi didapat kalau berada pada kelompok anak
yang lebih kecil.
f. Terhadap
orang yang lebih dewasa anak Slow Learner memilih tingkah laku lekat,
bersikap sopan, memiliki prasangka terhadap guru di sekolah, dan kadang protes
apabila ada yang dinilai kurang mempedulikannya.
Penyesuaian akademik pada anak Slow
Learner menunjukkan adanya rasa takut pada bidang akademik yang memerlukan
aktivitas kognesi, tidak disiplin, membangkang yang sifatnya pasif.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar