Sabtu, 09 November 2013

Masalah dan Kebutuhan Siswa Lambat Belajar Menurut Para Ahli


Sesuai dengan ciri-cirinya, masalah pokok yang dialami siswa lambat belajar adalah kelambatannya dalam belajar sebagai akibat dari keterbatasan kemampuan yang dimilikinya. Di samping itu, murid lambat belajar juga mengalami masalah penyesuaian diri yang bersumber dari keadaan emosi yang kuarng terkendali, sehingga tidak jarang terjadi perselisihan dengan teman-temannya.
Kepribadian manusia mempunyai keunikan. Keunikan ini yang membedakan orang satu dengan yang lainnya. Dalam kepribadian tercakup aspek fisik, psikis, serta sosial. Di dalamnya juga tercakup cara-cara memberikan respon terhadap rangsangan dari dalam maupun dari luar, baik rangsangan fisik maupun sosial. Yang menjadi pertanyaan dalam hal ini:
Dari hasil penelitian yang dilakukan Purwandari (1993) dalam Suharmini (2001) ternyata anak lambat belajar (Slow Learner) mempunyai ciri-ciri emosi sebagai berikut:
a.    Daya konsentrasi rendah
Daya konsentrasi hanya sebentar, seperti terikat dalam kegiatan belajar di kelas, anak hanya dapat mengikuti pelajaran dengan baik ± 20 menit, lebih dari itu, anak kelihatan gelisah, dan kadang mengganggu teman-temannya yang sedang belajar.
b.    Mudah lupa dan beralih perhatian
Hal ini sangat berkaitan dengan daya ingat dan rangsangan dari luar.
c.    Eksplosif
Anak sering menampakkan sikap cepat bereaksi terhadap rangsang tanpa ada pertimbangan pemikiran terlebih dahulu. Bila tidak diberi tugas akan nampak kecewa.
Kehidupan emosi anak lambat belajar tidak jauh berbeda dengan anak normal, hanya tidak sekaya anak normal. Misalnya anak lambat belajar dapat mengekspresikan kegembiraan tetapi sulit untuk mengungkapkan kekaguman. Bentuk-bentuk emosi yang positif pada anak lambat belajar adalah cinta (kasih sayang), gembira, dan empati. Emosi yang negative, seperti ketakutan, iri hati, dan agresif (Purwandari, 1993 dalam Suharmini 2001).
Hasil penelitian lain dengan menggunakan C.P.Q (Children’s Personality Questionnaire) ini ditemukan anak lambat belajar memiliki kekurangan berupa tidak matang emosi, kurang tabah, ceroboh, kurang dapat menahan diri, bersikap dingin, menyendiri, dan cenderung melanggar ketentuan.
Kepribadian dan penyesuaian sosial merupakan proses yang berkaitan. Seperti yang dikatakan di depan bahwa kepribadian itu mempunyai fungsi untuk menyesuaikan terhadap lingkungan termasuk lingkungan sosial (Suharmini, 2001).
Mengenai penyesuaian anak Slow Learner , Purwandari (1994) dalam Suharmini (2001) memaparkan hasil penelitiannya sebagai berikut:
a.    Anak Slow Learner mempunyai dorongan untuk berafiliasi atau menjalin hubungan persahabatan dengan teman dalam kelompoknya. Hanya kadang-kadang kelompok member peran yang tidak berarti dan kadang menolaknya.
b.    Tidak memenuhi tuntutan sosial, perilaku anak Slow Learner sering tidak memenuhi tuntutan sosial, ini yang menyebabkan kelompok sering menolaknya.
c.    Menyendiri. Anak Slow Learner merasa lebih aman dalam keadaan kesendirian, karena tidak ada yang mengusik.
d.    Sering tidak diterimanya oleh teman sebaya, menyebabkan merasa tidak dihargai (ora di uwongke). Anak sering diejek oleh teman-temannya.
e.    Anak Slow Learner lebih merasa gembira bila berada pada teman-temannya yang lebih kecil. Anak menunjukkan sikap sosial yang menyenangkan pada kelompok anak yang lebih kecil. Ungkapan rasa kasih sayang, tingkah laku “clowning” (membadut” sering dilakukan anak Slow Learner pada saat bergabung dengan anak yang lebih kecil. Kepuasan pribadi didapat kalau berada pada kelompok anak yang lebih kecil.
f.     Terhadap orang yang lebih dewasa anak Slow Learner memilih tingkah laku lekat, bersikap sopan, memiliki prasangka terhadap guru di sekolah, dan kadang protes apabila ada yang dinilai kurang mempedulikannya.
Penyesuaian akademik pada anak Slow Learner menunjukkan adanya rasa takut pada bidang akademik yang memerlukan aktivitas kognesi, tidak disiplin, membangkang yang sifatnya pasif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar