Pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia untuk
menjamin keberlangsungan hidupnya agar lebih bermartabat. Karena itu negara
memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu kepada
setiap warganya tanpa terkecuali termasuk mereka yang memiliki perbedaan dalam
kemampuan (difabel) seperti yang tertuang pada UUD 1945 pasal 31 (1). Anak-anak
yang memiliki perbedaan kemampuan (difabel) disediakan fasilitas pendidikan
khusus disesuaikan dengan derajat dan jenis difabelnya yang disebut dengan
Sekolah Luar Biasa (SLB).
Senin, 18 November 2013
Minggu, 17 November 2013
MASALAH SLOW LEARNER DALAM PENDIDIKAN, PENYESUAIAN SOSIAL, EMOSIONAL, EKONOMI
Faktor
penting yang mempengaruhi pembelajaran adalah tingkat kepandaian orang tua dan
juga keluarga. Orang tua yang terpelajar sangat memperhatikan perkembangan
intelektual anak mereka. Mereka mulai mendidik dan melatih anak mereka sebelum
masuk TK. Mereka juga menyediakan mainan pendidikan dan buku yang
membantu anak belajar
METODE BELAJAR GURU BAGI SLOW-LEARNER
Anak
slow-learner mungkin merupakan cobaan berat bagi seorang guru. Keadaan anak
yang memang tidak memungkinkan untuk memuaskan seorang guru lewat prestasi
belajar, membuatnya perlu diperhatikan dan dibimbing dengan caranya sendiri.
Tiga dari lima siswa yang dibimbing seorang guru bisa merupakan anak
slow-learner, maka pengetahuan yang memadai mengenai bagaimana cara yang tepat
untuk mengakomodasi mereka sangat diperlukan. Berikut ini adalah hal-hal
HAMBATAN BELAJAR SLOW LEARNER
Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh
hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat
psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat
menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.
Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya : learning disorder; learning disfunction; underachiever; slow learner, dan learning diasbilities. Di bawah ini akan dijelaskan dari masing-masing pengertian tersebut.
Kesulitan belajar siswa mencakup pengertian yang luas, diantaranya : learning disorder; learning disfunction; underachiever; slow learner, dan learning diasbilities. Di bawah ini akan dijelaskan dari masing-masing pengertian tersebut.
GEJALA SLOW LEARNER
- · Membaca
Individu
yang mengidap keterlambatan dalam kemampuan membaca, mengalami kesulitan dalam
mengartikan atau mengenali struktur kata-kata atau memahami struktur kata
tersebut. Mereka juga mengalami kesulitan lain seperti cepat melupakan apa yang
telah dibacanya. Sebagian para ahli berargumen bahwa kesulitan mengenali
bunyi-bunyi bahasa (fonem) merupakan dasar bagi keterlambatan kemampuan
membaca, dimana kemampuan ini penting sekali bagi pemahaman hubungan antara
bunyi bahasa serta tulisan yang mewakilinya.
Sabtu, 09 November 2013
Masalah dan Kebutuhan Siswa Lambat Belajar Menurut Para Ahli
Sesuai dengan ciri-cirinya,
masalah pokok yang dialami siswa lambat belajar adalah kelambatannya dalam
belajar sebagai akibat dari keterbatasan kemampuan yang dimilikinya. Di samping
itu, murid lambat belajar juga mengalami masalah penyesuaian diri yang
bersumber dari keadaan emosi yang kuarng terkendali, sehingga tidak jarang
terjadi perselisihan dengan teman-temannya.
Kepribadian manusia mempunyai
keunikan. Keunikan ini yang membedakan orang satu dengan yang lainnya. Dalam
kepribadian tercakup aspek fisik, psikis, serta sosial. Di dalamnya juga
tercakup cara-cara memberikan respon terhadap rangsangan dari dalam maupun dari
luar, baik rangsangan fisik maupun sosial. Yang menjadi pertanyaan dalam hal
ini:
Karakteristik Slow Learner menurut Transley Dan R. Guliford
Transley dan R. Gulliford (1971: 4) menjelaskan bahwa karakteristik siswa
lambat belajar (Slow Learner) adalah sebagai berikut.
DEFINISI SLOW LEARNER atau LAMBAN BELAJAR
Slow
learning yaitu suatu istilah nonteknis yang dengan berbagai cara dikenakan pada
anak-anak yang sedikit terbelakang secara mental, atau yang berkembang lebih
lambat daripada kecepatan normal. (Chaplin, 2005 : 468)
Slow
learning adalah anak dengan tingkat penguasaan materi yang rendah, padahal
materi tersebut merupakan prasyarat bagi kelanjutan di pelajaran selanjutnya,
sehingga mereka sering harus mengulang (Burton, dalam Sudrajat, 2008).
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)
.jpg)
